Trik Mengasah Kekuatan untuk Melindungi Diri

Kompas.com - 03/04/2011, 17:37 WIB

KOMPAS.com - Eko Hendrawan, dalam bukunya WSDK (Women Self Defence Kushin Ryu), Tubuhku Senjataku, membahas berbagai cara perempuan melindungi dirinya melalui ilmu bela diri terapan yang berakar dari aliran karate Kushin Ryu. Tubuh perempuan bisa menjadi senjata ampuh untuk melawan jika berada dalam posisi terjepit atau menjadi incaran pelaku kejahatan di tempat umum. Aksesori atau perlengakapan yang selalu dibawa dalam tas seperti lipstik atau payung juga bisa menjadi senjata membela diri.

Meski begitu, Eko menegaskan, perempuan juga perlu membangun kekuatan dari dalam dirinya dengan mengandalkan sugesti diri, bahwa Anda -perempuan- tidak lemah. Anda bisa melakukan perlawanan jika diserang, tanpa bergantung pada pihak lain. Dengan begitu, Anda bisa merasa aman kapan saja dan di mana saja, meski area publik masih saja rawan untuk kaum hawa.

Jika saat ini Anda mulai membekali diri dengan ilmu bela diri dengan mengikuti latihan WSDK misalnya, Eko memberikan sejumlah trik agar perempuan selalu siaga di area publik:

1. Jangan malas berlatih
Asah kemampuan diri melakukan gerakan teknik dasar secara cepat dan efektif. Lakukan secara berulang hingga alam bawah sadar Anda meresponsnya. Kebiasaan yang berulang inilah yang akan membuat alam bawah sadar menggerakkan diri untuk bereaksi terhadap serangan yang datang.

2. Bangun kepercayaan diri dan ubah mindset
Yakinkan diri bahwa Anda, perempuan, adalah mahluk yang diberi banyak kelebihan, bahkan boleh jadi mengungguli pria. Jangan biarkan anggapan bahwa perempuan sebagai mahluk lemah merasuki pikiran Anda. Pikiran bahwa perempuan lemah justru akan melemahkan kekuatan yang sebenarnya ada di dalam diri.

3. Tetap waspada dan tenang
Latihan fisik tak cukup membekali perempuan membela diri. Eko menjelaskan, sikap waspada juga perlu dilatih secara intens. "Jangan pernah lengah, dan tetap fokus," lanjutnya. Apabila Anda berada dalam kondisi yang membahayakan, tetaplah berusaha tenang. "Kuasai pikiran dan emosi Anda," sarannya.

4. Asah kepekaan membaca situasi

Kepekaan sosial akan membantu perempuan supaya tetap terjaga di berbagai kondisi. Kepekaan sosial ini bisa dan perlu dilatih. Kejahatan bisa dihindari asalkan kita pandai membaca situasi dan kondisi, kata Eko. Untuk melatih kepekaan sosial, jangan pernah sungkan berbagi pengalaman dengan orang lain. Pengalaman yang dialami diri sendiri maupun orang lain di sekitar Anda akan menjadi pembelajaran berharga untuk melatih kepekaan sosial.

5. Ikuti kata hati
Percayalah pada suara hati Anda. Saat merasakan hal aneh ketika berada di kendaraan umum, melihat gelagat aneh atau merasakan kejanggalan, ini pertanda yang perlu Anda waspadai. Suara hati akan menggerakkan pikiran, jadi jangan pernah meragukan apa yang terbersit dalam hati. Jika ada kesempatan menghindar, segeralah menjauh atau tak perlu berpikir ulang untuk turun dari kendaraan umum yang sedang Anda tumpangi. "Menghindar adalah pertahanan yang paling efektif," jelas Eko.

Women Self Defense of Kushin Ryu
Pelatihan WSDK Jakarta, setiap Kamis mulai pukul 18.30, TBM LB001-002 Mal Blok M Jakarta Selatan (Eko - 08122045531).
FB: WSDK-Beladiri Praktis Khusus Perempuan

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau